Jumat, (28/08) Prodi Tadris Bahasa Indonesia mengadakan kegiatan praktik keahlian sastra lisan secara daring dan luring. Kegiatan yang digelar secara luring dihadiri oleh sebagian mahasiswa  semester 5 dan beberapa dosen TBI di aula gedung FAB lantai 4, sedangkan lainnya mengikuti  secara daring via zoom meeting.

Pada pelaksanaannya, praktik keahlian ini terbagi dalam dua sesi. Sesi pertama mengangkat tema”Restorasi Sastra di Era Digital” dengan narasumber Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum. selaku guru besar dalam bidang sastra Universitas  Negeri Yogyakarta (UNY). Adapun sesi kedua mengambil tema “Pendampingan dan Pengembangan Materi Sastra dalam UKBI” dengan narasumber Kurniasih Fajarwati, M.Pd. selaku dosen pembelajaran sastra TBI.

Sebelum narasumber menyampaikan materi, acara dibuka terlebih dahulu oleh Prof. Dr. Toto Suharto, M.Ag. selaku Dekan Fakultas Adab dan Bahasa (FAB). Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa praktik keahlian sastra lisan ini dapat menjadi bentuk alih wahana atau ekranisasi. Alih wahana berupa kearifan lokal yang terdapat di lingkungan sekitar yang dapat dijadikan sebuah produk berupa cerita rakyat, dongeng, hikayat, film, dan lain-lain.

Kaprodi Tadris Bahasa Indonesia, Dr. Siti Isnaniah, M.Pd. juga menjelaskan bahwa luaran dari kegiatan praktik keahlian ini berupa produk buku cetak karya sastra lisan berbasis kearifan lokal. Harapannya dapat membekali mereka sebagai calon guru yang profesional melalui pengembangan media sekaligus guru yang memiliki jiwa wirausaha, sehingga sesuai dengan visi dan misi prodi TBI.

Setelah sambutan dekan dan kaprodi, acara dilanjutkan pada penyampaian materi oleh masing-masing narasumber. Pada materi pertama, Prof. Dr. Suwardi Endraswara, M.Hum menerangkan bagaimana cara menemukenali, memproduksi, dan mengkreasi tradisi sastra lisan berbasis religi, wisata, dan budaya dari berbagai perspektif transdisipliner. Mahasiswa dapat mengkaji fenomena tradisi lisan menggunakan perspektif wisata ekroligi sastra, perspektif wisata religi botani sastra, perspektif wisata zooreligi sastra, dan perspektif wisata gastrologi sastra. Namun sebelum masuk pada pengkajian dengan berbagai perspektif, mahasiswa diarahkan untuk peka dan kritis terhadap fenomena tradisi lisan yang berada di berbagai daerah.

Pada materi kedua, Kurniasih Fajarwati, M.Pd. menjelaskan penelitan folklor dari berbagai genre, baik lisan, sebagian lisan, maupun bukan lisan. Narasumber juga menganalisis beberapa produk artikel yang telah disusun mahasiswa. Artikel tersebut telah disiapkan sebelum kegiatan ini dilakukan. Mereka diminta untuk menyusun artikel sastra lisan dengan mengangkat kearifan lokal yang terdapat di berbagai daerah.

Adapun tindak lanjut dari kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu merevisi artikel yang telah disusun sesuai dengan penjelasan dan arahan masing-masing narasumber. Kemudian, karya mereka akan dibukukan dalam bentuk kumpulan sastra lisan berbasis kearifan lokal dari berbagai daerah. (Tiya Agustina)

Berita ini juga termuat di media Solopos.fm